id="theme-header" class="theme-header">

Rasa Hormat Siswa Tangganung Jawab Orangtua atau Guru

REOTAC – Akhir-akhir ini kekerasan yang melihatnya anak sekolah semakin tinggi dan beraneka ragam ceritanya. Mulai dari kenakalan biasa hingga mengarah tindakan kriminal bahkan tindak pidana pembunuhan.
Belum hilang dalam benak kita, kasus pembunuhan sopir taksi online yang melibatkan siswa SMK. Lalu ada penganiayaan siswa SD gara-gara melakukan gol bunuh diri saat bermain sepak bola di sekolahnya. T (12), siswa SDN Pakunden 1 Kota Kediri ini dikeroyok dan ditendang kemaluannya oleh teman-temannya saat bermain sepak bola pada 18 Januari lalu. Perkara ini tengah ditangani Unit PPA Polresta Kediri.
Lalu yang masih hangat kasus penganiayaan murid terhadap guru terjadi di SMAN 1 Torjun, Sampang, Madura, Kamis (1/2) lalu. Penganiayaan ini mengakibatkan nyawa sang guru, Ahmad Budi Cahyono tak terselamatkan. Dalam laporan polisi terungkap penganiayaan ini terjadi sekitar pukul 13.00 WIB pada saat sesi jam terakhir.
Yang terbaru aksi bocah dengan tanpa rasa hormat dengan melepas baju menantang duel kepala sekolah. Dimanakah moral anak bangsa calon penerus masa depan? Jika muridnya saja berani menantang duel kepala sekolah. Ungkapan itu merupakan caption yang dituliskan akun Instagram@mimih.perrih di postingannya, Minggu (4/2).
Akun itu mengunggah video singkat yang menunjukkan seorang siswa berseragam SMP ngomel-ngomel. Tak hanya mengomel, dia juga berdiri hingga membuka bajunya. Seperti yang dituliskan akun tersebut, siswa itu mengajak duel kepala sekolah karena ditegur. Postingan itu langsung mengundang komentar netizen yang juga merasa miris.
Siswa yang diduga bersekolah di wilayah Purbalingga ini langsung ditanggapi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Purbalingga. Pengurus PGRI Purbalingga Zaenu mengaku ikut prihatin dengan peristiwa tersebut.
Pihaknya berharap, kejadian ini tidak terulang dan menjadi pembelajaran bersama bagi semua pihak, baik pelaku pendidikan, orangtua maupun masyarakat. Semua pihak baik penyelenggara sekolah, guru maupun siswa hingga orangtua perlu sama-sama introspeksi terkait kejadian ini. Kenapa hal ini bisa terjadi?
Kita tidak usah saling menyalahkan dengan menuding siapa yang memulainya? Melihat kasus seperti itu, sebaiknya semua pihak menyikapi dengan bijaksana, dan saling menghormati dan tidak menyinggung perasaan baik siswa atau pun guru. Lalu apakah demikian parahnya moral siswa dan bisa dikatakan mengalami degradasi? Zaenu tidak menampik ada degradasi moral siswa saat ini, namun menurutnya ini hanya kasuistik. Ia yakin, rata-rata siswa di sekolah saat ini masih menaruh hormat terhadap guru mereka.
Maka pengurus PGRI Purbalingga ini mengingatkan bahwa pembentukan karakter dan moral siswa tidak hanya tanggungjawab guru dan pendidik di sekolah. Tapi yang paling bertanggungjawab adalah orangtua. Karena orangtua telah diberi amanah oleh Allah yang akan dimintai pertanggungjawabannya di akhirat kelak. Apalagi, waktu pembinaaan dan pengawasan lebih banyak untuk orangtua di luar jam sekolah.
Maka didikan mental, moral dan karakter dari orangtua sangat vital dan dasar sebelum mereka terjun ke masyarakat sosial dan sekolah. Bagaimana cara orangtua mendidik anak yang benar, tentunyam masing-masing orangtua memiliki metode sendiri-sendiri untuk membentuk mental anak.
Maka sebagai orangtua harus ikut aktif mendidik dan mengawasi pergaulan anak mereka sehingga tidak terjerumus pada perilaku menyimpang. Mau dibentuk seperti apa anak Anda ke depan, tergantung usaha dan doa Anda!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*