id="theme-header" class="theme-header">

Menjemput Ajal Dengan Miras

REOTAC.COM — Baru-baru ini saya melihat Mbah Man asyik membaca berita di media cetak sambil geleng-geleng kepala. Tak puas dengan informasi yang didapatkan dia pun membuka situs berita di gadgetnya. Kemudian, dia pun hanya terdiam dan seolah tidak habis pikir.

Lalu dia pun bercerita saat bertemu dengan remaja yang bangga dengan menggunakan jaket bertuliskan mbudal nongkrong seger, mulih-mulih ndoyong (berangkat nongkrong sehat bugar, tapi pulangnya sempoyongan).

Dia pun membandingkan dengan kasus ini, sebenarnya apa yang dicarinya, dan apa tujuannya, apalagi manfaatnya bagi penggemar minuman keras ( miras) oplosan tersebut.

Mau unjuk diri kepada siapa atau hanya sekadar ikut-ikutan. Apakah dia ingin mengetes kedigdayaan? Apakah tidak sama saja dengan menjemput ajal?

Ujar Mbah Man sambil menunjukkan berita tentang korban minuman keras oplosan tersebut. Tidak tanggung-tanggung korbannya sudah 58 meregang nyawa akibat miras oplosan tersebut.

Apalagi menurut Mbah Man salah satu perbuatan maksiat menurut agama Islam adalah minum atau mengkonsumsi khomr, yaitu segala sesuatu minuman, makanan, bahan atau zat yang menyebabkan hilang kesadaran bagi peminumnya.

Menurutnya Nabi Muhammad SAW juga telah mengingatkan ada tiga golongan yang tidak akan masuk surga yaitu yang menyakiti hati orang tua, orang yang membiasakan minum arak dan orang-orang mengungkit-ungkit apa yang pernah dia berikan. Apakah mereka belum pernah mengkajinya atau mendengar nasihat agama dari para ustaz?

Seperti diketahui, kemarin Kapolda Jabar Irjen Pol Agung Budi Maryoto menjelaskan kasus luar biasa ini. Maka dia berjanji akan mengusut tuntas kasus ini, dirinya akan mengecek langsung lokasi pembuatan miras oplosan maut tersebut.

Apalagi, tim gabungan sudah mendapatkan pabrik pembuat miras di rumah yang cukup besar. Apalagi rumah tersebut juga dilengkapi kolam renang, dan terdapat bunkernya juga ditemukan barang bukti. Tentu ini bukan sekadar produksi minuman keras kecil-kecilan dan begitu banyak korban jiwa melayang.

Menurutnya dari hasil pengembangan kasus ini, jenis miras di Cicalengka ada keterkaitan dengan jenis yang di Kabupaten maupun Kota Bandung, terkecuali jenis miras di Sukabumi. “Karena kemasannya sama, tapi yang di Sukabumi tidak. Di Sukabumi itu dia beli miras sendiri ditambah tambah sendiri, meracik sendiri, minum sendiri, mabuk sendiri, mati sendiri,” ujarnya.

Kapolda yakin adanya keterlibatan mafia Jakarta sebagai pemasok bahan baku miras oplosan maut tersebut maka akan ditelusuri hingga tuntas. Polisi menemukan beberapa barang bukti diantaranya, jiriken berwarna biru yang diduga bahan kimia, alat racik, botol air mineral, serta miras oplosan siap jual.

Dari hasil analisis laboratorium bahan baku miras yang mengakibatkan 58 orang tewas itu positif mengandung metanol yang biasa digunakan spiritus. Adalah bahan yang sangat berbahaya, yaitu alkohol kadar tinggi dan metanol.

Efeknya jika diminum akan bikin sesak napas, mual, kemudian meninggal. Dari bentuk gejala yang dialami para korban, dimulai dengan mual, muntah dan pandangan jadi kabur. Adapun lama dampak dari miras yang dikonsumsi para korban antara durasi 30 menit sampai dua jam, tergantung kondisi tubuhnya.

Semoga kasus ini segera tuntas dan terungkap siapa yang terlibat dan siapa yang mengambil keuntungan dari miras oplosan ini.

Harapannya pihak terkait tidak sekadar hanya razia miras semata, tapi menindak dengan tegas sehingga ada efek jeranya. Harapan kita kasus miras oplosan yang menyebabkan kematian massal ini yang terakhir terjadi di Negeri ini. Amin. (*)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*