id="theme-header" class="theme-header">

Zona Merah Difteri

REOTAC.COM – Kemarin masyarakat diramaikan dengan sebuah pesan berantai melalui aplikasi Whatsapp (WA) yang menginformasikan jika Kelurahan Genuksari di Kota Semarang masuk Zona Merah penyebaran penyakit difteri, Jumat (20/7).

Dalam pesan itu juga terdapat peringatan kepada masyarakat untuk tidak melewati jalan Dong Biru, Genuksari dengan mencantumkan fakultas kedokteran universitas di kota Semarang sebagai pemberi informasi dan ternyata pesan tersebut adalah hoax.

Alhasil informasi ini cepat berkembang di dunia maya, tidak hanya warga Semarang hingga masyarakat di berbagai daerah pun menanyakan kabar tersebut.

Terkait hal tersebut Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi menegaskam jika informasi yang viral melalui WA tersebut adalah tidak benar alias hoax.

Menurutnya memang ada kasus difteri di tempat tersebut, tapi itu sudah ditangani Dinas Kesehatan Kota Semarang. Sehingga tidak ada yang namanya ‘Zona Merah’ apalagi sampai tidak boleh lewat di daerah itu.

Kepala Dinas Kesehatan Kota (DKK) Semarang, dr Widoyono menambahkan memang ada tujuh kasus difteri dari awal Juni sampai sekarang. Dan sudah ada dua anak yang meninggal dunia karena difteri ini Hal yang disesalkan widoyono adalah ternyata ketujuh kasus difteri ini, dulunya orang tua menolak untuk imunisasi Difteri Pertusis Tetanus (DPT).

Langkah yang diambil Pemkot Semarang dalam menangangi kasus difteri di Genuksari ini, salah satunya dengan melakukan ORI (Outbreak Response Immunization) kepada semua anak di Kelurahan Genuksari.

Satu kelurahan yang terkena kasus difteri akan diberikan imunisasi seluruhnya, sesuai umur anak. “Kami lakukan ini supaya penyakit difteri tidak menyebar semakin luas,” jelas Widoyono. Dengan adanya kejadian seperti ini DKK bersama Camat dan Lurah akan bekerja proaktif untuk melakukan penyuluhan dan kegiatan imunisasi tersebut.

Dr Syiska Maolana, penanggungjawab dan koordinator dalam kegiatan imunisasi hari ini di Puskesmas Genuk, mengatakan target anak yang akan diimunisasi sebanyak 5120 anak. Antara umur dua bulan sampai 12 tahun.

Tentu kasus ini harus ada kerjasama dengan berbagai pihak tidak hanya DKK Semarang tapi instansi terkait dan masyarakat umumnya untuk memutus mata rantai penularan agar tidak menyebar khususnya di daerah Genuksari dan di semua wilayah Negeri ini. Amin!

Apalagi penyakit difteri adalah penyakit yang sangat menular pada hidung dan tenggorokan. Penyakit ini dapat dicegah dengan vaksinasi. Jika seseorang tidak divaksinasi terhadap bakteri yang menyebabkan difteri, infeksi dapat menyebabkan komplikasi serius, seperti ganguan saraf, gagal jantung, dan bahkan kematian.

Maka masyarakat bila mengalami penyakit difteri, segera hubungi dokter dan selama pengobatan difteri, dokter juga dapat menyarankan untuk pasien opname di rumah sakit di ruang isolasi sehingga pasien tidak akan berpotensi menularkan infeksi ke orang lain.

Peristiwa ini bisa dijadikan peringatan semua pihak untuk mencegah terjadinya kasus difteri di Semarang dan Jawa Tengah umumnya. Diharapkan semua masyarakat dan semua pihak selalu waspada sehingga tidak ada korban lagi. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*