Emosi di Jalanan Berujung Maut

KEMARIN, obrolan di warung kopi ‘Mbah Man’ lagi seru membahas berita yang viral soal kecelakaan di Solo Jawa Tengah. Mbah Man pun mempertanyakan kebenaran soal pengemudi mobil mewah yang sengaja menabrak pengendara motor hingga tewas tersebut.

“Bener opo orak, kok ono wong tegone ngono’? Piye kejadian sebenare dan kronologinya ” Benar atau tidak? Kok ada orang setega itu, bagaimana kejadian dan kronologinya). Apalagi, menurutnya sampai melibatkan malaikat pencabut nyawa. Masak sih, dari emosi yang bisa saja terjadi jalan raya di Negeri ini berujung kematian.

Tentu yang bisa menjawab pertanyaan Mbah Man ini adalah petugas, khususnya pihak kepolisian yang menangani hal ini. Apalagi kronologi kejadiaannya? Namun, apa pun hasil olah kejadian perkara, bila emosi di jalan raya tidak dibenarkan berbuat untuk mencelakai orang lain apalagi sampai kehilangan nyawa.

Mbah Man hanya manggut-manggut dan berharap tidak ada yang bermain-main dalam kasus ini?

Dalam kasus ini Budi Wicaksono, Kriminolog Universitas Dipengoro (Undip) mengingatkan perilaku berlalulintas adalah cerminan diri seseorang. Kita bisa lihat perilaku seseorang dari cara dia berlalulintas. Jika dia tertib, menaati rambu-rambu maka dalam kesehariannya orang tersebut juga begitu, dan sebaliknya.

“Dalam kasus ini saya melihat adanya unsur kesengajaan. Sebab si pengendara mobil sempat berhenti di kawasan menteri Supeno atau sekitar stadion Manahan. Lalu melaju lagi hingga terjadi tabrakan yang merenggut nyawa pengendara sepeda motor,” ujarnya.

Tapi, lanjut Budi akan sulit untuk membuktikan pengemudi mobil ini berniat membunuh atau sekedar ingin memberi pelajaran. Bisa saja ia hanya ingin menganiaya atau memberi pelajaran. Apa pun niatnya, si pengemudi mobil ini tetap bersalah. Sebab ia bertindak main hakim sendiri.

Untuk menjawab masalah ini, kemarin, Jumat (24/8) Tim gabungan Polda Jateng bersama Polresta Surakarta telah menggelar olah tempat kejadian perkara (TKP). Olah TKP menggunakan metode traffic accident analysis (TAA) tiga dimensi. Metode ini untuk merekonstruksi kejadian yang sebenarnya di lapangan. Kemudian olah TKP dilanjutkan tim Inafis dan Labfor Polda Jateng. Mereka mengambil beberapa sampel material di lokasi kecelakaaan. Mulai titik pertama kecelakaan, kerusakan motor dan mobil, serta barang bukti sisa kecelakaan lainnya, seperti debu bekas darah dan arang.

Kapolresta Surakarta, Kombes Pol Ribut Hari Wibowo menjelaskan, olah TKP untuk menambah pembuktian dan memperkuat proses penyidikan. “Hasil olah TKP untuk memperkuat proses penyidikan proses selanjutnya,” kata Kapolresta seusai olah TKP di Solo, Jawa Tengah.

Kapolres menegaskan, pelibatan tim gabungan dari Polda Jateng untuk membuktikan bahwa Polresta Surakarta tidak main-main dalam menangani dan memproses kasus tersebut. “Kita profesional makanya semua yang bisa mendukung penyidikan supaya proses ini bisa berjalan dengan profesional, transparan dan bisa dipertanggungjawabkan,” terangnya.

Kapolresta berjanji pihaknya akan menangani kasus ini secara transparan dan profesional. Menurutnya semua orang sama di mata hukum. “Tak ada perbedaan. Semua orang di mata hukum adalah sama,” katanya. Mari kita kawal dan tunggu hasil penyelidikan petugas agar semuanya terungkap dan tidak ada yang bermain-main dalam kasus ini. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*