">

Darurat Penjahat Kelamin? Kebiri Atau Hukuman Mati

Aksi Penjahat Kelamin di Negeri ini terus terjadi dan banyak menelan korban tanpa pandang bulu. Korbannya pun tidak hanya orang dewasa, anak-anak bahkan balita hingga nenek-nenek.

Entahlah, sampai kapan peristiwa ini bisa dicegah dan membuat pelaku atau calon pelaku berpikir dua kali untuk melakukan kejahatan hina dan keji ini. Kasus ini pun telah menjadi obrolan di warung kopi Mbah Man.

Seharusnya undang-undang atau wacana kebiri bagi pelaku kejahatan seksual segera diwujudkan. Bukan hanya melihat Hak Asasi Manusia bagi pelaku tapi juga korban-korbannya yang penderitaannya dibawa seumur hidupnya bahkan hingga kematiannya nanti. Rasa trauma, ketakutan dan dampak yang menakutkan selalu membayangi korban perkosaan dan kejahatan seksual lainnya.

“Akankah HAM bagi perusak masa depan dan perilaku binatang ini masih layak dipertimbangkan,” ujar Mbah Man sewot.

Bicara masalah hukum memang membutuhkan waktu, debat panjang karena melibatkan kepentingan bagi pelaku, pembela pelaku dan lain sebagainya. “Tapi, entahlah kita sebagai orang awam, kita tidak usah ambil pusing soal hukumannya bagi penjahat kelamin, tapi setidak-tidaknya pihak terkait bisa memikirkan masa depan korban kejahatan seksual,” harap Mbah Man.

Seperti kita ketahui, kabar tragis terakhir tentang Penjahat Kelamin terjadi di Grogol Utara, Kebayoran Lama yang ditangkap polisi atas dugaan memerkosa B, anak perempuan berusia 4 tahun.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Steven Tamuntuan menyampaikan, insiden ini terjadi Sabtu (8/9/2018) lalu ketika B mengeluhkan sakit di bagian tubuhnya kepada orangtuanya. Ternyata, korbannya tak hanya satu balita tapi ada anak perempuan lain yang baru berusia 6 tahun jadi korbannya.

Beruntung! segera bisa ditangkap, bagaimana kalau masih berkeliaran dan seandainya dihukum ringan dan dia keluar lagi dari penjara nanti? Kasus yang juga menggegerkan ada lagi di Riau, seorang siswi SD yang hamil 7 bulan karena menjadi korban perkosaan dua Penjahat Kelamin.

Karena berbagai hal sehingga kasus ini tidak terungkap dan terbongkar setelah korban hamil 7 bulan? Belum lagi kasus oknum sopir yang menjadi fotografer gadungan yang memperkosa model-model perempuan yang masih di bawah umur.

Modus pelaku yaitu dengan membuka lowongan model di akun sosial media kemudian korban yang tertarik datang di lokasi untuk bertemu pria tersebut. Lalu pelaku juga mengancam korban dengan mengeluarkan senjata tajam untuk mau menuruti kemauannya.

Di Jawa Tengah sendiri, Penjahat Kelamin yang seharus menjaga dan mendidik malah jadi predator kelamin pada anak didiknya sendiri. Yang menjadi pertanyaan, kenapa oknum guru agama kok tega melakukan perbuatan keji ini. Tidak takutkah ancaman Tuhan padahal dirinya seorang guru agama. Sudah saatnya para orangtua yang akan dimintai pertanggungjawabannya oleh Tuhan di akhirat nanti harus proaktif dan selalu menjaga anak-anaknya.

Dan pihak terkait bisa memberikan perlindungan dan membuat antisipasi terhadap ancaman Penjahat Kelamin ini. Meski pelaku bisa dijerat tindak pidana pasal 76 E JO 82 UU no.35 tahun 2014 tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman hingga 15 tahun penjara. Namun, bagi korban dan keluarganya hukuman itu tidak setimpal dibanding penderitaan mereka yang seumur hidup.

Semoga pemerintah dan pihak terkait peka dan membuat hukum yang berat bagi penjahat kelamin ini segera. Sehingga tidak ada lagi penjahat-penjahat kelamin dan tidak ada lagi korban-korban kejahatan seksual yang kebanyakan terjadi wanita dan anak-anak ini. Semoga!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*